Pandangan Islam Tentang Masalah Seks

      No Comments on Pandangan Islam Tentang Masalah Seks

Pandangan Islam Tentang Seks – Berbicara tentang seks, ada anggapan dari sebagian masyarakat bahwa hal tersebut merupakan masalah yang tabu, masalah yang kotor, jijik, dan tak patut untuk dibicarakan. Apalagi bila masalah tersebut dikaitkan dengan masalah keagamaan. Sifat kotor dan jijik yang melekat pada masalah seksual, khawatir melekat dan mencemari kesucian nilai-nilai ajaran agama.

pandangan Islam tentang seks

Tumbuhnya persepsi semacam itu disebabkan merembesnya paham ajaran Gereja Masehi pada abad pertengahan di Eropa ke dalam benak umat manusia. Berangkat dari pemahaman dan bunyi ajaran yang ada dalam Al-Kitab: “Apabila mata kalian, mata yang baik sekalipun, menyebabkan timbulnya nafsu birahimu, maka cungkillah mata itu dan buanglah. Lebih baik sebagian tubuh kalian dibinasakan daripada seluruhnya dilemparkan ke dalam neraka” (Injil Matius pasal 5 ayat 28), maka gereja pun memberlakukan ajaran – ajaran moralnya di masyarakat dan ajaran – ajaran tersebut tidak lain adalah sistem gerejani atau sistem kepasturan.

Akibatnya berkembanglah pemahaman bahwa wanita itu adalah makhluk yang tidak memiliki arti apa – apa. Dan dianggap sebagai makhluk yang kotor, hina dan menjijikkan. Oleh karena itu wanita harus dijauhi dan semua hal yang bisa mendekatkan dan mengarahkan kepadanya harus dihilangkan, termasuk dorongan seksual. Mereka berusaha memadamkan naruli seksualnya agar bisa memperoleh kesucian diri. Maka ditanamkanlah kepada masyarakat bahwa seks itu tabu, seks itu kotor, seks itu jijik, seks itu hina dan semua atribut negatif lainnya. Mereka berbuat demikian, sebab menganggap bangkitnya dorongan seksual hanya akan mendekatkan diri mereka kepada wanita. Sedangkan wanita, menurut mereka, adalah makhluk yang haram untuk digauli. Kemudian muncullah banyak pendeta yang mengurung diri dalam biara di pinggiran kota jauh dari keramaian, di puncak – puncak gunung, untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah dan mensucikan jiwa, dan membersihkan diri dari syahwat dengan cara menjauhi segala hal yang mengundangnya.

Kemudian muncullah Islam, sewaktu mereka dalam keadaan seperti itu, maka Islam berusaha keras untuk merubah keadaan tersebut, sebab hal itu bertentangan dengan tabiat manusia dan sebab – sebab pembangunan umat. Islam selalu berpandangan obyektif terhadap masalah seks. Islam tidak mengakui cara kerahiban*, dan tidak menggunakan prinsip bahwa sarana pendekatan terhadap Tuhan harus dengan menghindarkan diri dari masalah tuntunan seks. Secara tegas Islam mengatakan bahwa itu bukan ajaran yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.” (QS Al-Hadid [57]: 27)

Rasullullah SAW. Bersabda:

“Tidak ada kerahiban di dalam agama Islam.”

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut, maka pandangan kerahbaniyahan, tidak kawin, tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin tanpa kecuali. Sebab hal ini melawan aturan kehidupan yang benar. Sistem kepasturan sebagaimana yang dianut oleh kaum nasrani, jelas tidak selaras dengan fitrah yang dimiliki manusia. Dorongan seksual yang tidak disalurkan secara wajar dan tidak sesuai dengan kaidah – kaidah moral hanya akan menimbulkan pengaruh yang negatif. Begitu pun bila dorongan seksual ditekan secara terus – menerus, sebagaimana para rahib Nasrani, maka akan menimbulkan kegelisahan psikis. Bahkan bisa menjurus kepada prilaku penyimpangan seksual, seperti masturbasi, homoseks, lesbian dan lain sebagainya.

Untuk mengarahkan penyaluran seks yang positif dan menekan penyaluran seksual yang negatif, Rasulullah telah memberikan bimbingan secara jelas dan gamblang tentang makna penyaluran hubungan seksual melalui pernikahan adalah perbuatan yang baik dan mendapatkan pahala, selagi pelakunya tetap menjaga kehormatan agar tidak terjerumus ke perzinahan dan terjebak perilaku seksual negatif lainnya.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda :

“Pada salah satu bagian di antara kalian -maksudnya hubungan seksual- terdapat pahala.” Para sahabat  bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami apabila memenuhi panggilan hawa nafsunya itu mendapatkan pahala?” Rasul menjawab: “Apakah kalian tidak melihat, apabila hal itu diletakkan pada hal yang diharamkan, bukankah akan mendapatkan dosa?” Demikian juga seandainya ia meletakkan pada jalan dihalalkan tentu akan mendapat pahala.” (HR Muslim)

Sabda Nabi SAW tersebut memberi aturan untuk meluruskan kehidupan seksual manusia agar tidak terjebak dan terjerumus pada hal yang semata-mata bertujuan memuaskan nafsu hewani belaka, berpindah dari satu orang ke orang lain secara bebas. Islam mengendalikan keinginan seks dengan peraturan – peraturan tertentu, demi untuk melindungi kehormatan dan hubungan – hubungan seseorang. Islam tidak mengekang, apalagi mematikan keinginan seksual tersebut. Dengan demikian, menyalurkan hawa nafsu haruslah pada tempatnya, yaitu antara suami dan istri. bahkan dalam agama, dipandang sebagai pekerjaan mulia.

Pada masa Nabi SAW. Ada tiga laki – laki datang kepada istri Rasulullah SAW di rumahnya. Ketika mereka diberitahu, seolah – olah mereka menganggap enteng apa yang dikatakan oleh para istri Nabi. Mereka mengatakan: “Bagaimana dengan keadaan kami nanti, Rasulullah sendiri telah mendapat ampunan atas segala dosa yang diperbuatnya, baik yang sudah berlalu maupun yang akan datang.” Salah satu di antara mereka mengatakan: “Adapun saya selalu menjalankan shalat malam selama – lamanya. Orang kedua berkata: “Sepanjang tahun saya terus – menerus melaksanakan puasa dan tidak pernah berbuka.” Yang terakhir mengatakan: “Adapun saya akan menjauhi wanita dan tak akan kawin.” Setelah itu datanglah Nabi SAW meluruskan apa yang telah dikatakan oleh mereka denga nada keras dengan sabdanya:

“Demi Allah, ketahuilah bahwa aku adalah orang yang paling takut pada Allah dan paling takwa kepada-Nya dibanding kalian, tetapi saya tetap melakukan puasa dan berbuka, shalat malam dan tidur dan saya tetap kawin dengan perempuan. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut, Nabi SAW menjelaskan tentang pandangan Islam terhadap Seks. Dorongan seksual tidak boleh dikekang apalagi di matikan, walaupun dengan alasan untuk ibadah. Islam memandang bahwa dorongan nafsu seksual itu harus disalurkan melalui tali pernikahan, demi melindungi kesucian hubungan seksual itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *